Menakar Nyali Wakil Rakyat di Tengah Desakan Angket Pemakzulan Gibran.

By Admin

Gibran Rakabuming Raka | Dok. KPU

nusakini.com, Gedung kura-kura di Senayan belakangan ini terasa lebih hening dalam balutan masa reses, namun keheningan itu menyimpan letupan tuntutan yang tertahan dari akar rumput. Di lorong-lorong marmer yang dingin itulah, sekelompok warga dari Aliansi Kolektif Sipil (AKSI) datang membawa sebuah dokumen yang siap mengusik zona nyaman para politisi.

Mereka datang bukan sekadar mengantar tumpukan kertas, melainkan membawa gelombang kekecewaan publik sebagai konsekuensi langsung dari putusan Mahkamah Konstitusi terkait polemik ijazah Gibran. Wacana pengguliran hak angket kini menggema perlahan di sudut-sudut parlemen, mencari tahu apakah gedung megah ini masih diisi oleh wakil rakyat yang memiliki keberanian.

Muhammad Khozin berdiri di sana mewakili Fraksi PKB, menerima map berisi aspirasi itu dengan gestur seorang politisi yang tengah menghitung arah angin. Tangannya menggenggam dokumen tersebut, menyadari bahwa mengusut dugaan cacat prosedural kekuasaan memerlukan nyali politik yang jauh melampaui sekadar retorika di depan kamera.

Dalam balutan diplomasi yang sangat berhati-hati, Khozin berusaha mengelola ekspektasi massa dengan berlindung di balik tembok prosedur administratif yang mengikat. "Setelah pertemuan ini, kami menerima suratnya secara resmi, nantinya akan kita tindak lanjuti, akan kita bahas, lakukan pendalaman, kajian, kalkulasi, dan seterusnya," tutur Khozin dengan nada yang begitu terukur.

Bagi jutaan pasang mata di luar sana, janji kalkulasi itu sering kali dibaca sebagai eufemisme dari keraguan parlemen saat dihadapkan pada penguasa. Publik kini menatap lekat-lekat, menanti apakah Senayan punya cukup nyali untuk mewujudkan aspirasi masyarakat banyak, atau membiarkan tuntutan itu mati perlahan di laci meja kerja. (*)